Meraih Sukses Bersama Orang Lain

Owner Es Pisang Ijo Paling Enak

Merintis usaha dengan gerobak di depan rumah. Kini, punya 100 mitra di Jakarta dan sekitarnya.

Bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang suka makanan khas Sulawesi, mungkin tidak asing dengan nama es pisang ijo ‘Paling Enak’. Maklum makanan ini termasuk mudah ditemui di tempat umum. “Ada sekitar 100 gerai yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek),” kata Abu Saad, pemilik usaha ini kepada Suara Hidayatullah.Dengan jumlah gerai sebanyak itu tentu volume penjualannya juga besar. Menurut Saad, setiap hari rata-rata terjual 2.500 porsi. Dari jumlah itu omset yang didapat mencapai Rp 17,5 juta per hari. Jumlah sebesar itu cukup besar. Apalagi usaha itu usianya belum tiga tahun.

Awal Usaha
Saad memulai bisnis tersebut sejak tahun 2010. Saad membuka sebuah kedai kecil di depan rumahnya, di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. “Waktu itu modalnya kecil, sehingga hanya bisa membuka kedai kecil,” jelas Saad. Saat itu, setiap hari rata-rata Saad hanya mampu menjual 20 porsi.

Saad mengaku sengaja menjual makanan khas Makassar karena ia dan istrinya berasal dari daerah tersebut. “Saya memilih usaha ini karena saya dan istri dari Sulawesi Selatan, dan salah satu produk makanan khas dari sana adalah es pisang ijo,” ujarnya. Apalagi menurut Saad, ketika itu makanan khas daerahnya sedang ramai dibicarakan orang dan banyak media yang memberitakan bisnis waralaba es pisang ijo.

Hal ini lalu ditangkap oleh Saad sebagai peluang untuk membuka usaha. Tentu Saad dan istrinya, Hairawati Chairuddin, tidak asing lagi dengan makanan tersebut. Meski mereka tinggal di Jakarta, makanan itu masih sering menjadi menu di rumahnya.

Kekhasan makanan tersebut yaitu rebusan pisang raja dibalut dadar telor berwarna hijau dicampur dengan bubur putih yang dibuat dari resep khusus. Kemudian disiram sirup DHT, sirup khas daerah Makassar. “Saya tak menyangka bahwa es kami mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” kata Saad.

Waktu terus berlalu. Usaha Saad memperlihatkan tanda-tanda kemajuan. Permintaan terus bertambah dan sebagian pembeli memuji karena rasanya enak.

Oleh karena permintaan yang bertambah terus, maka Saad menambah kedainya di tempat lain. Ia membuka sebuah gerai di Taman Amir Hamzah daerah Matraman. “Dari banyaknya pelanggan yang merasa puas membuat saya dan istri semakin yakin dan optimis bahwa usaha ini bisa menjadi besar,” cerita ayah lima orang anak ini.

Bahkan ketika musim hujan tiba, dimana biasanya orang tidak tertarik mengonsumsi es, tapi itu tidak berlaku pada usahanya. Nilai penjualan tetap normal seperti ketika di musim panas.

Menurut Saad, penjualan paling tinggi umumnya di bulan Ramadhan. Biasanya penjualannya naik dua kali lipat dibanding bulan biasa.

Setelah dirasa es buatannya semakin diminati masyarakat, Saad kemudian berpikir mengembangkan usahanya dengan sistem kemitraan. “Saya melihat usaha ini bisa besar jika dikelola dengan baik dan melibatkan banyak orang,” katanya.

Akhirnya, Saad pun menawarkan resepnya ke berbagai orang. Gayung pun bersambut, hingga kini mitranya mencapai 100 orang.

Berbagai Macam Bisnis

Keberhasilan dan kesuksesan Saad menjalankan bisnis makanan ini di antaranya tidak lepas dari keuletan dan kesabarannya. Apalagi jiwa seperti itu sudah dimilikinya sejak kecil. Karena itu, dunia usaha bagi Saad sudah menjadi bagian kehidupannya. Ia belajar dagang sejak usia sekolah dasar (SD).

“Orangtua saya petani dan diakhir usianya beralih menjadi pedagang,” ujar Saad. Sebelum sekolah di SD, Saad jualan es lilin di sawah–sawah ketika musim panen. Saat SD ia membantu ibunya menjual kue di sekolah. “Ketika SMP saya jualan sayuran di pasar, makanan dan sembako untuk membantu orangtua,” jelas laki–laki yang juga pengurus Forum Umat Islam ini. Sedangkan pada masa kuliah Saad berbisnis perlengkapan mahasiswa dan buku.

Setelah berkeluarga jiwa wirausahanya semakin menguat. “Saya dan istri sudah mencoba berbagai jenis usaha. Saya tidak bisa menghitungnya berapa jenis usaha yang pernah kami geluti,” kata anak dari pasangan Muhammad Dahlan dan Fatimah ini.

Jiwa usaha itu semakin kuat ketika mereka hijrah ke Jakarta. Beberapa usaha seperti jualan buku, obat-obatan herba dan baju Muslim pernah mereka lakoni. “Namun Allah telah menunjukkan kami untuk usaha makanan khas daerah kami,” jelas Abu Saad. Kini, mereka hanya fokus pada usaha tersebut.

Selain sebagai seorang pebisnis, Saad juga dikenal sebagai seorang juru dakwah. “Saya pernah aktif di beberapa harakah dakwah Islam,” akunya. Karena itu, tak heran jika ia sering diminta menjadi pembicara dalam berbagai pengajian. Meski demikian ia bersama istrinya tidak malu menjajakan dagangannya di pinggir jalan.

Dalam menjalankan usahanya, Saad mengaku tidak memiliki tips khusus. Ia hanya menggunakan strategi pemasaran yang sederhana, yaitu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para konsumennya. “Memberikan kepuasan kepada pelanggan sehingga merekalah yang mempromosikan produk kami ke orang lain,” katanya.

Saad yakin bahwa pelanggan yang puas selanjutnya akan mengajak keluarganya dan teman-temannya. Inilah yang membuat usahanya cepat maju. Dan cara ini menurut Saad yang paling cepat. Kata Saad, ia tidak memiliki tim pemasaran khusus untuk mengembangkan usaha, semuanya mengalir apa adanya. Kepercayaan mereka dibangun dari kepuasan terhadap produk dan pelayanannya.

Saat ini, Saad mempekerjakan 18 karyawan di kantor pusatnya. Agar karyawan tetap loyal, Saad memberi gaji yang layak sesuai upah minimum regional (UMR). Sedangkan untuk pembinaan spiritual karyawannya, Saad mengadakan pengajian rutin seminggu sekali. Kegiatan itu wajib diikuti. “Yang belum bisa membaca al-Qur`an kita ajari, yang sudah bisa kita latih untuk terus mengaji, lalu kita berikan pelajaran dasar tentang pokok-pokok ajaran Islam,” jelasnya.

Selain membina karyawannya, Saad juga memfasilitasi sebuah program pembinaan umat. Ada beberapa kalangan yang ia bantu pemberdayaan ekonominya. Biasanya, Saad tidak membantu dengan bantuan berupa uang, tapi melatih kemampuan berdagang orang tersebut dengan memberikan modal gerobak es pisang ijo. Saad membantu memberi keringanan cicilan.

“Niat saya sejak awal berbisnis agar bisa melibatkan banyak orang dan bersama-sama untuk mendapatkan rezeki,” pungkasnya.

Semoga dengan cara inilah usaha yang digeluti Saad terus bertambah berkah.* Thufail al-Ghifari/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2012

Sumber : http://majalah.hidayatullah.com/?p=3591

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s