KEKUATAN SAYA ADALAH DOA

Ustadz Abu Saad, Owner Pisang Ijo “Paling Enak”

Berwirausaha tidak hanya mengandalkan kekuatan modal (uang), tetapi juga butuh kekuatan doa.

Siapa bilang ustadz kerjanya cuma ceramah?. Rasulullah Saw saja, sebelum menjadi kepala negara di Madinah juga melakukan aktivitas bisnis. Begitu juga dengan para sahabat. Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurahman bin Auf, semuanya adalah bisnisman. Ibnu Auf bahkan terkenal sebagai trilyuner pada zamannya.Itu pula yang rupanya menjadi inspirasi bagi Muhammad Hijrah Dahlan. Ustadz kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, yang akrab dipanggil Abu Saad ini lebih memilih menjadi pengusaha ketimbang menjadi dosen di Universitas Islam Makassar (UIM). Abu Saad adalah alumni jurusan Teknik Elektro Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar.

Awal usaha di sektor informal ini diawali ketika Abu Saad membina keluarga pada 1993. Saat itu ia masih menjalani kuliah di UMI. Bersama sang isteri, Hairawati, ia merintis usaha. Dimulai dengan berjualan buku, busana muslim hingga warung. Bahkan pada tahun 1996 toko kelontong kecil juga dibuka. Semua usahanya itu dijalani bersamaan dengan aktivitas dakwahnya dalam sebuah harakah Islam.

Tahun 2003, Abu Saad bersama istri dan ketiga anaknya hijrah ke Jakarta. Pertama menginjakkan kaki di Jakarta, ia tinggal di sebuah wilayah di Jakarta Utara. Keputusan pindah ke Jakarta juga bukan pilihan mudah, karena semuanya harus dimulai dari nol lagi. Padahal kalau ingin hidup tenang dan bahagia secara materi, di Makassar sepertinya sudah cukup, saat itu ia aktif menjadi dosen di salah satu perguruan tingi di Makssar disamping menjalankan aktifitas bisnisnya.
Lantas, dari mana keluarganya ia hidupi?. Abu Saad memulai usaha kecilnya dengan menjual kue khas Makassar, Jalangkote. Tak disangka, ternyata kue ini cukup diminati masyarakat. Omzetnya hingga 1000 buah per hari.

Namun usaha ini tidak lama digelutinya karena pada awal 2005 Abu Saad mendapatkan tawaran dari salah seorang teman dekatnya untuk mendirikan toko dan distributor buku. Usaha itu kemudian diberi nama “Khilafah Center”, berdiri di Kayu Manis, Jakarta Timur. Abu Saad ditunjuk sebagai Direktur. Usaha ini terus berkembang, bukan hanya jualan dan mendistribusikan buku tetapi juga menerbitkan. Belakangan malah merambah produk-produk busana muslimah dan herbal.

Khilafah Center berjalan selama kurang lebih empat tahun. Karena pada 2009, toko ini terpaksa bubar karena ada persoalan internal dalam organisasi yang menjadi jaringan pengembangan usaha tersebut. Tapi itu bukan berarti usaha Abu Saad ikut bubar. Bersama sang istri, ia berjualan bakso yang diberi merek Bakso Qalbu. Dengan mengusung tagline bakso sehat, halal dan tanpa pengawet.

Usaha Bakso Qalbu rupanya belum ‘hoki’ baginya. “Marjin untungnya terlalu kecil. Karena ongkos produksinya sangat tinggi”, katanya.

Tapi itu juga tidak membuat Abu Saad kapok membuka usaha makanan. Kali ini ia membuka usaha makanan khas Makassar lainnya, Es Pisang Ijo. Bukan Es Pisang Ijo biasa, tapi Es Pisang Ijo “Paling Enak.”

Usaha Pisang Ijo dimulai dari rumah kontrakannya, yang juga bekas Khilafah Center di Rawamangun, Jakarta Timur. Setelah mendapatkan respon bagus dari konsumen, outlet-outletnya mulai dibuka.  Salah satu cabang yang penjualannya bagus adalah di depan Masji Jami’ Matraman, di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Usaha Es Pisang Ijo ini rupanya berkembang sangat pesat. Akhirnya Abu Saad membuka sistem waralaba. Hingga 2012 ini total outletnya sudah lebih dari 100 gerobak yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Samarinda, Balikpapan dan Makassar. Dengan omzet per harinya sekitar 2500 sampai 3000 porsi. Jika per porsi setiap mitra membayar Rp. 4300, maka omsetnya per hari berkisar Rp. 12,9 juta- atau hampir 400 juta rupiah setiap bulannya. Untuk usaha ini Abu Saad mempekerjakan 18 orang karyawan. “Alhamdulillah”, kata Abu Saad singkat mensyukuri keberhasilan usahanya.

Kini rumah kontrakannya di Rawamangun yang dijadikan pusat produksi es pisang ijo terasa tidak lagi mencukupinya. Akhirnya dibuka tempat produksi kedua di Jati Asih, Bekasi. Selain Es Pisang Ijo, rencananya juga akan dibuka produk makanan lainnya, Es Teler.

Lantas apa hasil jerih payah usaha Abu Saad selama ini?. “Saya selalu puas dengan apa yang sudah saya dapatkan, meskipun dalam hal pengembangan usaha baru sekitar 15 % saja yang saya jalani. Alhamdulillah dari tidak punya apa-apa sekarang sudah terlihat hasil dari usaha yang saya jalani”, ungkapnya. Semangat saya mengembangkan usaha ini tidak hanya di dorong oleh keinginan untuk meraih keuntungan materi, tapi saya ingin melalaui usaha ini saya dapat membantu lebih banyak orang lagi melalui program kemitraan. Saya punya keinginan mengembangkan kemitraan ini  hingga 1000 (seribu) grobak.

Secara materi memang terasa sudah cukup. Di Jati Asih, Abu Saad dan keluarganya kini telah menampati rumah sendiri seharga hampir 4 milyar. Sebuah mobil sedan toyota Yaris keluaran terbaru juga selalu menemani aktivitasnya. “Tapi kesuksesan tidak bisa hanya diukur dengan materi itu. Kebahagian bagi saya adalah keridaan Allah Swt”, katanya merendah.

Dukungan Istri

Kesuksesan Abu Saad dalam menjalankan bisnis, tak lepas dari dukungan dan peran istrinya, Hairawati. Kekompakan adalah kunci suksesnya.

“Saya dan istri selalu kompak selalu memulai bersama-sama. Istri saya selalu memberikan dukungan penuh. Istri sayalah yang meramu rasa dari Es Pisang Ijo, istri saya juga yang membantu produksinya. Saya bagian makro, mengatur menejemen dan pemasarannya. Kami berdua tidak pernah membedakan saat punya uang dan tidak punya uang, karena dari komitmen awal saya mengatakan pada istri kita harus mampu merasakan “NIKMATNYA KEHIDUPANA BERUMAH TANGGA DISAAT KITA TIDAK MEMILIKI APA-APA” kata Abu Saad menceritakan peran istri dalam setiap usahanya.

Lalu, apa resep sukses dari usaha Es Pisang Ijo “Paling Enak”?. Abu Saad menjawab  “Dalam usaha pasti ada suka dan duka, ada yang memberikan keuntungan dan ada yang memberikan kerugian, semua adalah proses. Itu semua tergantung bagaimana kita mengelola dinamika itu, ungkapnya.

Kekuatan utama dalam meraih kesuksesan termasuk dalam wirausaha adalahdoa. Inilah yang seringkali diabaikan orang yang berwirausaha. “Banyak orang mengabaikan doa, padahal doa adalah suatu kekuatan. Setelah berdoa kita bekerja. Kekuatan saya adalah doa karena ketika saya berdoa saya merasa Allah akan segera memberikannya”, katanya.

Berwirausaha juga harus sesuai dengan hobi alias kegemaran yang disukai. Tapi jika tidak merasa memiliki hobi yang bisa dijadikan bisnis, maka perlu mencari usaha yang tidak terlalu berat untuk memulainya namun tetap memiliki prospe ke depan. “Jangan terlalu banyak pertimbangan. Mulailah dari sesuatu yang kita lihat, dan yang kita bisa, setelah itu pasti ada proses pembelajaran. Kalau sudah ada proses pembelajaran barulah adakan evaluasi”, ujar ayah 5 orang anak itu (dua terakhir meninggal dunia).

“Saya terbiasa yakin, bagi saya tidak ada yang tidak bisa. Tidak ada yang mustahil kecuali yang dimustahilkan Allah,” lanjutnya.

Secara teknis, seorang pengusaha juga harus menjaga kualitas produk. Kemudian memperbaiki manajemen, pengelolaan SDM sampai pengembangan jaringan. “Yang terakhir, sisihkanlah sebagian hak orang lain” pungkasnya.

(BOX)
Bisnis Tanpa Melupakan Dakwah

Muhammad Hijrah Dahlan, bukanlah seorang lelaki biasa yang berwirausaha untuk menghidupi anak istrinya. Sejak mahasiswa, Abu Saad, panggilan akrabnya, adalah seorang aktivis dakwah. Pria kelahiran Soppeng, 1 April 1968 ini pernah aktif di berbagai gerakan dakwah.

Sebelum di Hizbut Tahrir, Abu Saad pernah aktif menjadi anggota Jamaah Tabligh pada era 1989-1990. Selanjutnya pada 1990-1992 ia menjadi Ketua Lembaga Dakwah Kampus Universitas Muslim Indonesia. Setelah itu ia menjadi Direktur Lembaga Dakwah dan Kajian Strategis An-Nahdah di Makasar.

Aktivitas dakwah ayah dari Imam Muhammad Saad, Zakya Nur Saadah dan Fauzia Nur Saidah ini hingga kini terus berlanjut. Sembari membangun ‘kerajaan’ bisnisnya, Abu Saad tetap aktif berdakwah, mengisi kajian-kajian, tabligh akbar dan menjadi khatib Jum’at di bawah koordinasi Suara Islam dan Hizb Dakwah Islam (HDI). Ia pun tetap aktif bersama tokoh-tokoh ormas Islam lain dalam wadah Forum Umat Islam (FUI).

Sumber : Tabloid Suara Islam edisi 137 (Shodiq Ramadhan)
Lap: Mesyah Achreini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s